Uwais al qorni - penghulu para Tabi,in

UWAIS ALQORNY

Nama Uwais al-Qarani memainkan peranan penting dalam biografi mistikal nabi.

"Sesungguhnya aku merasakan nafas ar-Rahman, nafas dari Yang Maha Pengasih, mengalir kepadaku dari Yaman!” Demikian sabda Nabi SAW tentang diri Uwais, yang kemudian dalam tradisi tasawuf menjadi contoh bagi mereka yang memasuki tasawuf tanpa dituntun oleh sang guru yang hidup.
Para sufi yang mengaku dirinya telah menempuh jalan tanpa pemba’iatan formal kemudian disebut dengan istilah Uwaisi. Mereka ini dibimbing langsung oleh Allah di jalan tasawuf, atau telah ditasbihkan oleh wali nabi yang misterius, Khidhir. Uwais yang bernama lengkap Uwais bin Amir al-Qarani berasal dari Qaran,
sebuah desa terpencil di dekat Nejed. Tidak diketahui kapan beliau dilahirkan. Ia kilahirkan oleh keluarga yang taat beribadah. Ia tidak pernah mengenyam pendidikan kecuali dari kedua orang tuanya yang sangat ditaatinya.

Untuk membantu meringankan beban orang tuanya, ia bekerja sebagai penggembala dan pemelihara ternak upahan. Dalam kehidupan kesehariannya ia lebih banyak menyendiri dan bergaul hanya dengan sesama penggembala di sekitarnya. Oleh karenanya, ia tidak dikenal oleh kebanyakan orang disekitarnya, kecuali para tuan pemilik ternak dan sesamanya, para penggembala. Hidupnya amat sangat sederhana. Pakaian yang dimiliki hanya yang melekat di tubuhnya. Setiap harinya ia lalui dengan berlapar-lapar ria. Ia hanya makan buah kurma dan minum air putih, dan tidak pernah memakan makan yang dimasak atau diolah. Oleh karenanya, ia merasakan betul derita orang-orang kecil disekitarnya. Tidak cukup dengan empatinya yang sedemikian, rasa takutnya kepada Allah mendorongnya untuk selalu berdoa kedapa Allah : “Ya Allah, janganlah Engkau menyiksaku, karena ada yang mati karena kelaparan, dan jangan Engaku menyiksaku karena ada yang kedinginan.” Ketaatan dan kecintaannya kepada Allah, juga termanifestasi dalam kecintaannya dan ketaatannya kepada Rasulullah dan kepada kedua orang tuanya, sangat luar biasa.
Di siang hari, ia bekerja keras, dan dimalam hari, ia asik bermunajat kepada Allah swt. Hati dan lisannya tidak pernah lengah dari berdzikir dan bacaan ayat-ayat suci al-Qur’an, meskipun ia sedang bekerja. Ala kulli hal, ia selalu berada bersama Tuhan, dalam pengabdian kepada-Nya. Rasulullah saw menuturkan keistimewaan Uwais di hadapan Allah kepada Umar dan Ali bahwa dihari kiamat nanti, disaat semua orang dibangkitkan kembali, Uwais akan memberikan syafaat kepada sejumlah besar umatnya, sebanyak jumlah domba yang dimiliki Rabbiah dan Mudhar (keduanya dikenal karena mempunyai domba yang banyak). Karena itu, Rasulullah menyarankan kepada mereka berdua agar menemuinya, menyampaikan salam dari Rasulullah, dan meminta keduanya untuk mendoakan keduanya, yang digambarkan bahhwa Uwais memiliki tinggi badan yang sedang dan berambut lebat, dan memiliki tanda putih sebesar dirham pada bahu kiri dan telapak tangannya. Sejak Rasulullah menyarankan keduanya untuk menemuinya, sejak itu pula keduanya selalu penasaran ingin segera bertemu dengan Uwais.

Setiap kali Umar maupun Ali bertemu dengan rombongan orang-orng Yaman, ia selalu berusaha mencari tahu dimana keberadaan Uwais dari rombongan yang ditemuinya. Namun, keduanya selalu gagal mendapatkan informasi tentang Uwais. Barulah setalah Umar diangkat menjadi khalifah, informasi tentang Uwais keduanya perolih dari serombongan orang Yaman, “Ia tampak gila, tinggal sendiri dan tidak brgaul dengan masyarakat. Ia tidak makan apa yang dimakan oleh kebanyakan orang, dan tidak tampak susah atau senang. Ketika orang-orang tersenyum ia menangis, dan ketika orang-orang menangis ia tersenyum”. Demikian kata rombongan orang-orang Yaman tersebut. Mendengar cerita orang-orang Yaman tersebut, Umar dan Ali segera berangkat menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang-orang Yaman tadi. Akhirnya, keduanya bertemu dengan Uwais di suatu tempat terpencil. Abi Naim al-Afshani menuturkan dialog yang kemudian terjadi antara Umar dan Ali dengan Uwai al-Qarani sebagai berikut: Umar : Apa yang anda kerjakan disini ? Uwais : Saya bekerja sebagai penggembala Umar : Siapa nama Anda? Uwais : Aku adalah hamba Allah Umar : Kita semua adalah hamba Allah, akan tetapi izinkan kami untuk mengetahui anda lebih dekat lagi Uwais : Silahkan saja. Umar dan Ali : Setelah kami perhatikan, andalah orang yang pernah diceritakan oleh Rasulullah SAW kepada kami. Doakan kami dan berilah kami nasehat agar kami beroleh kebahagiaan dunia dan di akherat kelak. Uwais : Saya tidak pernah mendoakan seseorang secara khusus.

Setiap hari saya selalu berdoa untuk seluruh umat Islam. Lantas siapa sebenarnya anda berdua. Ali : Beliau adalah Umar bin Khattab, Amirul Mu’minin, dan saya adalah Ali bin Abi Thalib. Kami berdua disuruh oleh Rasulullah SAW untuk menemui anda dan menyampaikan salam beliau untuk anda. Umar : Berilah kami nasehat wahai hamba Allah Uwais : Carilah rahmat Allah dengan jalan ta’at dan penuh harap dan bertawaqal kepada Allah. Umar :Terimakasih atas nasehat anda yang sangat berharga ini. Sebagai tanda terima kasih kami, kami berharap anda mau menerima seperangkat pakaian dan uang untuk anda pakai. Uwais : Terimakasih wahai Amirul mu’minin. Saya sama sekali tidak bermaksud menolak pemberian tuan, tetapi saya tidak membutuhkan apa yang anda berikan itu. Upah yang saya terima adalah 4 dirham itu sudah lebih dari cukup. Lebihnya saya berikan kepada ibuku.nah makan makan yang di masak. Kurasa hidupku tidak akan sampai petang hari dan kalau petang, kurasa tidak akan sampai pada pagi hari. Hatiku selalu mengingat Allah dan sangat kecewa bila sampai tidak mengingat-Nya. Ketika orang-orang Qaran mulai mengetahui kedudukan spiritualnya yang demikian tinggi di mata Rasulullah saw, mereka kemudian berusaha untuk menemui dan memuliakannya. Akan tetapi, Uwais yang sehari-harinya hidup penuh dengan kesunyian ini, diam-diam meninggalkan mereka dan pergi menuju Kufah, melanjutkan hidupnya yang sendiri. Ia memilih untuk hidup dalam kesunyian, hati terbatas untuk yang selain Dia. Tentu saja, “kesunyian” disini tidak identik dengan kesendirian (pengasingan diri).

Hakekat kesendirian ini terletak pada kecintaanya kepada Tuhan. Siapa yang mencintai Tuhan, tidak akan terganggu oleh apapun, meskipun ia hidup ditengah-tengah keramaian. Alaisa Allah-u bi Kafin abdahu? Setelah seorang sufi bernama Harim bin Hayyam berusaha untuk mencari Uwais setelah tadak menemukannya di Qaran. Kemudian ia menuju Basrah. Di tengah perjalanan menuju Basrah, inilah, ia menemukan Uwais yang mengenakan jubah berbulu domba sedang berwudhu di tepi sungai Eufrat. Begitu Uwais beranjak naik menuju tepian sungai sambil merapikan jenggotnya. Harim mendekat dan memberi salam kepadanya. Uwais : menjawab: “ Wa alaikum salam”, wahai Harim bin Hayyan. Harim terkejut ketika Uwais menyebut namanya. “Bagaimana engakau mengetahui nama saya Harim bin Hayyan?’ tanya Harim. “Rohku telah mengenal rohmmu”, demikian jawaban Uwais. Uwais : kemudian menasehati Harim untuk selalu menjaga hatinya. Dalam arti mengarahkannya untuk selalu dalam ketaatan kepada-Nya melalui mujahadah, atau mengarahkan diri “dirinya “ untuk mendengar dan mentaati kata hatinya. Meski Uwais menjalani hidupnya dalam kesendirian dan kesunyian, tetapi pada saat-saat tertentu ia ikut berpartisipasi dalam kegiatan jihad untuk membela dan mempertahankan agama Allah. Ketika terjadi perang Shiffin antara golongan Ali melawan Muawiyah, Uwais berdiri di golongan Ali. Saat orang islam membebaskan Romawi, Uwais ikut dalam barisan tentara Islam. Saat kembali dari pembebasan tersebut, Uwais terserang penyakit dan meninggal saat itu juga. (t.39 H). Demikianlah sekelumit tentang Uais al-Qarani, kemudian hari namanya banyak di puji oleh masyarakat. Yunus Emre misalnya memujinya dalam satu sajak syairnya : Kawan tercinta kekasih Allah; Di tanah Yaman, Uwais al-Qarani. Dia tidak berbohong ; dan tidak makan makan haram Di tanah Yaman, Uwais al-Qarani Di pagi hari ia bangun dan mulai bekerja, Dia membaca dalam dzikir seribu satu malam Allah; Dengan kata Allahu Akbar dia menghela unta-unta Di tanah Yaman, Uwais alQarani Negeri Yaman “negeri di sebelah kanan “, negeri asal angin sepoi-sepoi selatan yang dinamakan nafas ar-rahman, Nafas dari Yang Maha Pengasih, yang mencapai Nabi dengan membawa bau harum dari ketaatan Uwais al-Qarani, sebagaimana angin sepoi-sepoi sebelumnya yang mendatangkan keharuman yang menyembuhkan dari kemeja Yusuf kepada ayahnya yang buta. Ya’kub (QS, 12: 95), telah menjadi simbul dari Timur yang penuh dengan cahaya, tempat dimana cahaya muncul, yang dalam karya Suhrawadi menggambarkan rumah keruhanian yang sejati. “Negeri di sebelah kanan “ itu adalah tanah air Uwais al-Qarani yanag memeluk Islam tanpa pernah betemu dengan nabi.

Hikmah Yamaniyyah, “Kebijaksanaan Yaman,” dan Hikmah Yamaniyyah,”filosofi Yanani”, bertentangan, sebagaimana makrifat intuitif dan pendekatan intelektual, sebagaimana Timur dan Barat. Doa dan Dzikir Satu hal yang perlu digarisbawahi dari diri Uwais al-Qarani, kemudian menjadi landasan dalam tareqat-tareqat sufi, selain baktinya yang luar biasa terhadap kedua orang tuanya dan sikap zuhudnya, adalah doa dan dzikirnya. Uwais tidak pernah berdoa khusus untuk seseorang, tetapi selalu berdoa untuk seluruh umat kaum muslim. Uwais juga tidak pernah lengah dalam berdzikir meskipun sedang sibuk bekerja, mengawasi dan menggiring ternak-ternaknya. Doa dan dzikir bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Hakekatnya adalah satu. Sebab, jelas doa adalah salah satu bentuk dari dzikir, dan dzikir kepada–Ku hingga ia tidak sempat bermohon (sesuatu) kepada-Ku, maka Aku akan mengaruniakan kepadanya sesuatu yang terbaik dari yang diminta orang yang berdoa kepada-Ku”. Uwais selalu bedoa untuk seluruh muslimin. Doa untuk kaum muslim adalah salah satu bentuk perwujudan dari kepedulian terhadap “urusan kaum muslim”. Rasulullah saw. Pernah memperingatkan dengan keras: Siapa yang tidap peduli dengan urusan kaum muslim, maka ia tidak termasuk umatku.” Dalam hal ini, Rasulullah saw menyatakan bahwa permohonan yang paling cepat dikabulkan adalah doa seseorang untuk saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan dan mendahulukan doa untuk selain dirinya. Dan Uwais lebih memilih untuk medoakan seluruh saudaranya seiman. Suatu ketika Hasan bin Ali terbangun tengah malam dan melihat ibunya, Fatimah az-Zahra, sedang khusu’ berdoa. Hasan yang pensasaran ingin tahu apa yang diminta ibunya dalam doanya berusaha untuk menguping. Namun Hasan agak sedikit kecewa, karena dari awal hingga akhir doanya, ibunya, hanya meminta pengampunan dan kebahagian hidup untuk seluruh kaum muslimin di dunia dan di akhirat kelak. Selesai berdoa, segera Hasan bertanya kepada ibunya perihal doanya yang sama sekali tidak menyisakan doanya untuk dirinya sendiri. Ibunya tersenyum, lalu menjawab bahwa apapun yang kita panjatkan untuk kebahagiaan hidup kaum muslim, hakekatnya, permohonan itu akan kembali kepada kita. Sebab para malaikat yang menyaksikan doa tersebut akan berkata “Semoga Allah mengabulkanmu dua kali lipat.” Dari prinsip tersebut, para sufi kemudian menarik suatu prinsip yang lebih umum yang padanya bertumpu seluruh rahasia kebahagiaan. Apa yang kita cari dalam kehidupan ini, harus kita berikan kepad orang lain. Jika kebajikan yang kita cari, berikanlah; jika kebaikan, berikanlah; jika pelayanan, berikanlah. Bagi para sufi, dunia adalah kubah, dan perilaku seseorang adalah gema dari pelaku yang lain. Secuil apapun kebaikan yang kita lakukan, ia akan kembali. Jika bukan dari seseorang, ia akan datang dari orang lain. Itulah gemanya. Kita tidak mengetahui dari mana sisi kebaikan itu akan datang, tetapi ia akan datang beratus kali lipat dibanding yang kita berikan. Demikianlah, berdoa untuk kaum mulim akan bergema di dalam diri yang tentu saja akan berdampak besar dan positif dalam membangun dan meningkatkan kualitas kehidupan spiritual seseorang. Paling tidak, doa ini akan memupus ego di dalam diri yang merupakan musuh terbesar, juga sekalihgus akan melahirkan dan menanamkan komitmen dalam diri “rasa Cinta”dan “prasangka baik”terhadap mereka, yang merupakan pilar lain dari ajaran sufi, sebagai manifestasi cinta dan pengabdian kepada Allah swt. Uwais tidak pernah lengah untuk berdzikir, mengingat dan mnyebut-nyebut nama Allah meskipun ia sedang sibuk mengurus binatang ternaknya. Dzikir dalam pengertiannya, yang umum mencakup ucapan segala macam ketaatan kepada Allah swt.

Namun yang dilakukan Uwais disini adlah berdzikir dengan menyebut nama-nama Allah dan meningat Allah, juga termasuk sifat-sifat Allah. Ibn Qayyim al-Jauziyyah ketika memaparkan berbagai macam faedah dzikir dalm kitabnya “al-wabil ash-shayyab min al-kalim at-thayyib” menyebutkan bahwa yang paling utama pada setiap orang yang bramal adalah yang paling banyak berdzikir kepad Allah swt. Ahli shaum yang paling utama adalah yang paling banyak dzikirnya; pemberi sedekah yang paling baik adalah yang paling banyak dzikirnya; ahli haji yang paling utama adalah yang paling banyak berdzikir kepada Allah swt; dan seterusnya, yang mencakup segala aktifitas dan keadaan. Syaikh Alawi dalam “al-Qawl al-Mu’tamad,” menyebutkan bahwa mulianya suatu nama adalah kerena kemuliaan pemilik nama itu, sebeb nama itu mengandung kesan sipemiliknya dalam lipat tersembunyi esensi rahasianya dan maknanya. Berdzikir dan mengulang-ulang Asma Allah, Sang Pemilik kemuliaan, dengan demikian, tak diragukan lagi akan memberikan sugesti, efek, dan pengaruh yang sangat besar. Al-Ghazali menyatakan bahwa yang diperoleh seorang hamba dari nama Allah adalah ta’alluh (penuhanan), yang berarti bahwa hati dan niatnya tenggelan dalam Tuhan, sehingga yang dilihat-Nya hanyalah Dia. Dan hal ini, dalam pandangan Ibn Arabi, berarti sang hamba tersebut menyerap nama Allah, yang kemudian merubahnya dengan ontologis. Demikianlah, setiap kali kita menyerap asma Allah lewat dzikir kepada-Nya, esensi kemanusiaan kita berubah. Kita mengalami tranformasi. Yanag apada akhirnya akan membuahkan akhlak al-karimah yang merupakan tujuan pengutusan rasulullah Muhammad saw. Dilihat dari sudut panang psikologis sufistik, pertama-tama dzikir akan memberi kesan pada ruh seseorang, membentuknya membangun berbagai kualitas kebaikan, dan kekuatan inspirasi yang disugestikan oleh nama-nama itu.
Dan mekanisme batiniah seseorang menjadi semakin hidup dari pengulangan dzikir itu, yang kemudian mekanisme ini berkembang pada pengulangan nama-nama secara otomatis. Jadi jika seseorang telah mengilang dzikirnya selama satu jam, misalnya, maka sepanjang siang dan malam dzikir tersebut akan terus berlanjut terulang, karena jiwanya mengulangi terus menerus. Pengulangan dzikir ini, juga akan terefleksi pada ruh semesta, dan mekanisme universal kemudian mengulanginya secara otomatis. Dengan kata lain, apa yang didzikirkan manusia dengan menyebutnya berulang-ulang. Tuhan kemudian mulai mengulanginya, hingga termaterialisasi dan menjadi suatu realita di semua tingkat eksistensi. Wallahu a’lam bis-shawab.

Sebelum nyawa terlepas

Kumpulan Puisi Islami
SEBELUM NYAWA TERLEPAS RAGA
Oleh Hartono "Jhon Witir"

Ketika tahta menguasai jiwa
Ketika mimpi tak beralas hati nurani
Tak peduli apa kata mereka
Bahkan Tuhan pun dianggap tiada

Saat logika berpikir nafas tak berakhir
Saat jiwa merasa menang tak kan ada lawan
Tak ada rasa takut akan hari kemudian
Karna rasa itu tlah tertutup bisikan syetan

Sadarlah wahai jiwa yang zolim
Kemenangan yang kau rasa sebenarnya adalah kekalahan

Surga yang kau rasa di dunia, sesungguhnya jalanmu ke neraka

Segeralah bersujud mohon ampunaNya
Sebelum nyawa terlepas dari raga

Tidak kah cukup bagimu tertulis berita
Kematian Fir'aun yang melegenda

Harap dibatas senja

HARAP DI BATAS SENJA
Oleh Natalino Neparasi

Redup tak terselami seberkas cahaya
pangkuan pijakan enggan memelas asa
perlahan kemilau tersapu dari mata
hanya air yang tersisa di ujung harap
impian menetes lembut dari mata
mencari naungan dari aungan srigala
Bayang – bayang di batas senja
kabut hitam menari membungkus mentari
bisikan harap pada angin malam
pinjamkan seberkas cahaya pada rembulan
bintang ukir sejuta kenangan
mata menanam benih – benih harapan
Ku songsong terang dengan balutan angin
tebarkan sejuta riah ke seluruh penjuru
lintasi terjal di persimpangan lembah
meraih angan ditengah pengungsian
membidik langit membunuh sangsi
meskipun kadang tersesat diantara dua jalan - Puisi Galau

Palestina

Oleh Pauz

Nasibmu malang
Malammu tak tenang
Nyawamu terancam melayang

Telan pahit kehidupan
Lelah akan momok tembakan
Seakan kebal dengan tuntutan pengorbanan

Aku bangsamu
Beda nasib, beda tempat
Bersama kekurangan yang menghambat

Nyaliku ingin pula menahan ledakanmu
Nyawaku tak sabar mati sahit bersamamu
Namun sa’at ini hanya do’a yang temani jihatmu

Palestina, islam terancam
Indonesia, islam berang
Yahudi harus di musnahkan

Rajawali yg cerdik

Di Suatu hari yang panas seekor rajawali sangat haus dan ingin minum. Sungai amat jauh dan sangat melelahkan jika terbang ke sana untuk minum. Ia tidak melihat kolam air di mana pun. Ia terbang berputar-putar. Akhirnya ia melihat sebuah buyung di luar rumah. Rajawali terbang turun ke buyung itu. Di sana ada sedikit air di dasar buyung. Rajawali memasukkan kepalanya ke dalam buyung tetapi ia tidak menggapai air itu. Ia memanjat ke atas buyung. Ia memasukkan lagi kepalanya ke dalam buyung tetapi paruhnya tidak bisa mencapai air itu.

Kemudian ia mencari akal.
Rajawali itu terbang tinggi dan kemudian turun menuju ke buyung untuk memecahkannya dengan paruhnya tetapi buyung itu amat kuat. Ia tidak dapat memecahkannya. Rajawali itu keluar terbang kearah buyung kemudian ia menabrakkan sayapnya. Ia mencoba memecahkannya, agar airnya akan keluar membasahi lantai. Tetapi buyung itu amat kuat. Rajawali itu amat letih bila harus terbang lebih jauh lagi. Ia berpikir ia akan mati kehausan.

Rajawali itu duduk termenung di sarangnya. Ia berpikir terus menerus Ia tidak mau mati karena kehausan. Ia melihat banyak batu-batu kecil di tanah. Ia mendapatkan ide. Ia mengambil batu itu dan memasukkannya ke dalam buyung. Ia memasukkan dan memasukkan terus. Air itu naik lebih tinggi setiap kali batu jatuh ke dalam buyung. Buyung itu hampir penuh dengan batu.

Air telah naik sampai ke permukaan. Rajawali yang pintar itu memasukkan paruhnya dan ia mendapatkan air. Pepatah mengatakan bahwa ? Jika ada kemauan pasti ada jalan. ? Rajawali itu telah membuktikannya.

Timun mas

     Pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri petani. Mereka tinggal di sebuah desa di dekat hutan. Mereka hidup bahagia. Sayangnya mereka belum saja dikaruniai seorang anak pun.

     Setiap hari mereka berdoa pada Yang Maha Kuasa. Mereka berdoa agar segera diberi seorang anak. Suatu hari seorang raksasa melewati tempat tinggal mereka. Raksasa itu mendengar doa suami istri itu. Raksasa itu kemudian memberi mereka biji mentimun.

     “Tanamlah biji ini. Nanti kau akan mendapatkan seorang anak perempuan,” kata Raksasa. “Terima kasih, Raksasa,” kata suami istri itu. “Tapi ada syaratnya. Pada usia 17 tahun anak itu harus kalian serahkan padaku,” sahut Raksasa. Suami istri itu sangat merindukan seorang anak. Karena itu tanpa berpikir panjang mereka setuju.

     Suami istri petani itu kemudian menanam biji-biji mentimun itu. Setiap hari mereka merawat tanaman yang mulai tumbuh itu dengan sebaik mungkin. Berbulan-bulan kemudian tumbuhlah sebuah mentimun berwarna keemasan.

     Buah mentimun itu semakin lama semakin besar dan berat. Ketika buah itu masak, mereka memetiknya. Dengan hati-hati mereka memotong buah itu. Betapa terkejutnya mereka, di dalam buah itu mereka menemukan bayi perempuan yang sangat cantik. Suami istri itu sangat bahagia. Mereka memberi nama bayi itu Timun Mas.

     Tahun demi tahun berlalu. Timun Mas tumbuh menjadi gadis yang cantik. Kedua orang tuanya sangat bangga padanya. Tapi mereka menjadi sangat takut. Karena pada ulang tahun Timun Mas yang ke-17, sang raksasa datang kembali. Raksasa itu menangih janji untuk mengambil Timun Mas.

     Petani itu mencoba tenang. “Tunggulah sebentar. Timun Mas sedang bermain. Istriku akan memanggilnya,” katanya. Petani itu segera menemui anaknya. “Anakkku, ambillah ini,” katanya sambil menyerahkan sebuah kantung kain. “Ini akan menolongmu melawan Raksasa. Sekarang larilah secepat mungkin,” katanya. Maka Timun Mas pun segera melarikan diri.

     Suami istri itu sedih atas kepergian Timun Mas. Tapi mereka tidak rela kalau anaknya menjadi santapan Raksasa. Raksasa menunggu cukup lama. Ia menjadi tak sabar. Ia tahu, telah dibohongi suami istri itu. Lalu ia pun menghancurkan pondok petani itu. Lalu ia mengejar Timun Mas ke hutan.

     Raksasa segera berlari mengejar Timun Mas. Raksasa semakin dekat. Timun Mas segera mengambil segenggam garam dari kantung kainnya. Lalu garam itu ditaburkan ke arah Raksasa. Tiba-tiba sebuah laut yang luas pun terhampar. Raksasa terpaksa berenang dengan susah payah.

     Timun Mas berlari lagi. Tapi kemudian Raksasa hampir berhasil menyusulnya. Timun Mas kembali mengambil benda ajaib dari kantungnya. Ia mengambil segenggam cabai. Cabai itu dilemparnya ke arah raksasa. Seketika pohon dengan ranting dan duri yang tajam memerangkap Raksasa. Raksasa berteriak kesakitan. Sementara Timun Mas berlari menyelamatkan diri.

     Tapi Raksasa sungguh kuat. Ia lagi-lagi hampir menangkap Timun Mas. Maka Timun Mas pun mengeluarkan benda ajaib ketiga. Ia menebarkan biji-biji mentimun ajaib. Seketika tumbuhlah kebun mentimun yang sangat luas. Raksasa sangat letih dan kelaparan. Ia pun makan mentimun-mentimun yang segar itu dengan lahap. Karena terlalu banyak makan, Raksasa tertidur.

     Timun Mas kembali melarikan diri. Ia berlari sekuat tenaga. Tapi lama kelamaan tenaganya habis. Lebih celaka lagi karena Raksasa terbangun dari tidurnya. Raksasa lagi-lagi hampir menangkapnya. Timun Mas sangat ketakutan. Ia pun melemparkan senjatanya yang terakhir, segenggam terasi udang. Lagi-lagi terjadi keajaiban. Sebuah danau lumpur yang luas terhampar. Raksasa terjerembab ke dalamnya. Tangannya hampir menggapai Timun Mas. Tapi danau lumpur itu menariknya ke dasar. Raksasa panik. Ia tak bisa bernapas, lalu tenggelam.

     Timun Mas lega. Ia telah selamat. Timun Mas pun kembali ke rumah orang tuanya. Ayah dan Ibu Timun Mas senang sekali melihat Timun Mas selamat. Mereka menyambutnya. “Terima Kasih, Tuhan. Kau telah menyelamatkan anakku,” kata mereka gembira.

     Sejak saat itu Timun Mas dapat hidup tenang bersama orang tuanya. Mereka dapat hidup bahagia tanpa ketakutan lagi.

(SELESAI)

Hutan setan


Ayu, Irma, Nisa, Aldo, Rama dan Yuda sedang liburan di perancis, mereka tinggal di rumah kakak Ayu yang bekerja disana. Mereka pun berjalan-jalan di kota yang penuh cahaya dan romantis itu. Akan tetapi, mereka harus pergi ke jepang dikarenakan saudara Ayu ada yang meninggal disana. Singkat cerita, mereka pun tiba di jepang dan pergi ke pemakaman.

2 hari pun telah berlalu tetapi mereka disana merasa bosan dan akhirnya mereka berencana untuk camping di hutan.
Aldo: “kita enaknya camping dimana ya”.
Iim: “ke gunung aokigahara aja disitu hutanya bagus”.
Rowi: “iya hutan itu bagus banget kita kan udah 5 tahun tinggal disini jadi kita tau tempat yang bagus”.
Yuda: “ya udah deh tapi disitu nggak ada hantunya kan”.
Rowi: “Emm, anu anu ya nggak ada lah” sambil sedikit gugup

Keesokan harinya akhirnya pun mereka berangkat menuju hutan aokigahara, setelah sampai, mereka sedikit bingung dikarenakan hutan itu kelihatan angker, ketika mereka berjalan di tengah hutan mereka terpisah menjadi 2 kelompok, kelompok 1 ayu, nisa, rama, yuda kelompok 2 irma, iim, rowi, aldo.

Di kelompok 1.
Ayu: “loh yang lainya kemana?”.
Nisa: “aku juga nggak tau”.
Yuda: “kok mereka bisa nggak ada wah hebat berarti mereka bisa main sulap”.
Rama: “sulap apaan mereka hilang beneran tau”.
Ayu: “aku yakin ini ada sangkut pautnya tentang hutan ini, dari awal aku sudah curiga sama tempat ini”.
Nisa: “kurang ajar berarti iim dan rowi membohongi kita semua dong”.
Ayu: “aku rasa begitu”.
Yuda: “kurang ajar pokoknya kalau ketemu gue, bakal gue jadiin rendang mereka berdua”.
Aldo: “emang bisa”.
Yuda: “mungkin”.

Di tengah perjalanan tiba-tiba kaki nisa masuk di dalam lumpur mereka pun berusaha menolong nisa akan tetapi nisa sudah tenggelam di dalam lumpur tersebut, mereka pun sedih dan menyesal.

Di sisi lain kelompok 2 menemukan sebuah perkampungan seperti gubuk tapi anehnya tidak berpenghuni dan banyak sekali tengkorak yang digantung di atas pohon. Tiba-tiba aldo merasa gatal-gatal dan menggaruk tubuhnya hingga terlihat tulang dan dagingnya hingga ia meninggal dengan mengenaskan.

Irma: “al, kenapa loe harus mati mengenaskan seperti ini”.
Rowi: “udah-udah jangan sedih lagi lagian udah terlanjur mati aja nggak bakalan bisa hidup lagi”.
Irma: “enak banget loe ngomong mati loe pikir ini masalah yang enteng aldo tuh sahabat gue tau, iya loe baru kenal sama dia jadi loe nggak merasa kehilangan”.
Iim: “udah-udah nggak usah debat”.
Irma: “tempatnya kok serem banget ya? Banyak tengkorak lagi, tempat apaan sih ini”.
Iim: “aku juga nggak tau sebaiknya kita istirahat di salah satu rumah yuk”.
Irma: “iya ayo iiihhh tempat yang tragis”. sambil berjalan

Dikelompok 1 mereka bertiga terus berjalan dan akhirnya sampai di perkampungan gubug yang penuh dengan tengkorak.
Ayu: “tempat apaan nih kok banyak tengkoraknya”.
Yuda: “iya kayak tempat pembunuhan aja, eh gue punya ide gimana tengkorak ini kita bawa pulang lalu kita jual aja”.
Rama: “yuda mana ada orang yang mau beli tengkorak, emang loe mau mungutin tengkorak-tengkorak itu semua”.
Yuda: “nggak sih tapi kan ada elo yang mau mungutin”.
Rama: “yee siapa juga yang mau mungutin”.
Ayu: “udah-udah nggak usah debat lagi, eh itu kayaknya irma deh”.
Rama: “iya kita kesana yuk”.

Akhirnya mereka bertemu kembali mereka pun senang.
Irma: “akhirnya kita dapat bertemu lagi”.
Ayu: “iya gue senang banget, eh row, im rahasia apa yang loe sembunyiin dari kita semua”.
Rowi: “nggak ada kok”.
Yeheskiel: “nggak usah bohong deh loe, gue jadiin rendang baru tau rasa loe”.
Rama: “iya nggak usah bohong deh jujur aja kali”.
Iim: “oke sebenarnya hutan aokigahara Dikenal dengan sebutan “Lautan Pohon”, hutan lebat seluas 32 kilometer di barat laut kaki Gunung Fuji, Namanya, Aokigahara. Rumor menyebut, ia memiliki cadangan besi di bawah tanahnya, yang mengganggu kerja kompas, menyesatkan para pejalan kaki yang menembus belantara. Yang paling menyedihkan, hutan ini menjadi lokasi bunuh diri, lebih dari 500 kasus yang dilaporkan sejak tahun 1950an. Penduduk setempat mengklaim kerap mendengar jeritan arwah di tengah malam. Tingginya angka bunuh diri memicu pemerintah memasang papan himbauan larangan bunuh diri. Sejak tahun 1970, dibentuk tim yang terdiri dari polisi, relawan, dan jurnalis yang bertugas menyusur hutan mencari mayat-mayat. Namun, kerja tim tersebut kalah berat ketimbang pekerja hutan. Merekalah yang bertugas membawa mayat dari hutan ke pos penjagaan hutan. Tubuh mayat, yang kadang sudah membusuk, diletakkan di kamar khusus untuk para korban bunuh diri. Para pekerja itu lalu hom-pim-pah, siapa yang kalah akan diberi tugas khusus – tidur di ruangan bersama jenazah. Sebab, diyakini akan berakibat buruk jika jenazah ditinggalkan sendirian. Arwah penasaran jenazah itu, ‘yurei’ akan menjerit-jerit sepanjang malam. Tak hanya itu, jenazah itu konon akan berpindah dengan sendirinya.

Ayu: “apa jadi ini hutan setan lantas kenapa kalian membawa kami ke tempat ini”.
Rowi: “karena kita yakin kalian lah yang bisa menghilangkan hantu-hantu di hutan ini karena penduduk sudah resah akan jeritan setan dan hilangnya orang yang pergi kesini”.
Irma: “caranya?”.
Iim: “dengan mencari kristal merah dan menghancurkannya maka setan yang ada disini semuanya akan hilang”.
Yuda: “oh gitu, tapi dari tadi gue kayaknya nggak lihat aldo deh”.
Irma: “aldo udah meninggal”.
Rama: “apa, pasti loe bohong kan”.
Irma: “gue nggak bohong terus nisa juga kemana?”.
Ayu: “nisa juga udah meninggal”.
Irma: “apa” mulai menangis
Ayu: “nggak usah drama deh disini kita harus membasmi hantu”.

Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang sampai mereka hampir terbawa oleh angin itu, iim dan rowi menghimbau untuk jangan sampai terbawa oleh angin itu, mereka pun bertahan dengan sekuat tenaga namun angin semakin bertambah kencang hingga akhirnya vina terbawa oleh angin itu, angin pun berhenti akan tetapi mereka kehilangan satu teman lagi, di sisi lain rowi yang terbawa oleh angin ia berada di goa yang sangat gelap dan tiba-tiba semua hantu yang bunuh diri di hutan tersebut mendekati rowi dan mencakar rowi sampai ia tewas.

Akhirnya pun mereka melanjutkan perjalanan mencari kristal merah yang konon berada di bawah pohon persik yang tak lain pohon itu hanya ada satu dari ribuan pohon di hutan aokigahara. Ketika mereka sedang berjalan di jalan yang diapit oleh dua jurang tiba-tiba iim terpereset dan masuk ke dalam jurang, telah hilang satu teman lagi kini tinggal mereka berempat mereka yang harus mencari pohon persik, ketika mereka sedang beristirahat untuk minum tiba-tiba ada sesosok kuntilanak yang mendekati mereka, mereka semua pun lari akan tetapi kaki yuda terjebak di akar pohon dan ia pun dicekik hingga tewas.

Tinggal 3 orang yang masih hidup, kini mereka lebih bersungguh-sungguh untuk mencari batu kristal tersebut, ketika mereka berjalan ternyata mereka kembali lagi ke perkampungan rumah gubug dan mereka melihat jasad teman-teman mereka digantung di atas pohon mereka pun menjadi histeris dan menangis.

Rama: “seharusnya gue nggak pernah ikut acara camping ini kalau ternyata gue harus berhadapan dengan hantu-hantu dan melihat sahabat gue mati secara tragis mending gue pulang aja sekarang”.
Ayu: “loe jangan pulang ka, kita harus mencari batu kristal itu bersama-sama”.
Raka: “kita nggak bakalan tau kapan kita mati mungkin kita juga akan mati di tempat ini”.
Ayu: “loe jangan gitu deh kita harus bisa melawan hantu-hantu itu optimis dong”.
Rama: “gak gue mau pulang”.
Ayu: “kalau loe mau pulang silahkan, loe bilang mungkin kita akan mati di tempat ini seenggaknya kalau kita mati disini kita udah barbuat kebaikan untuk orang banyak”.
Rama: “loe bener kemungkinan besar kita akan mati tapi kalau kita mati untuk kebaikan kita akan bisa mati dengan tenang”.
Ayu: “gitu dong”.
Irma: “kalian ngomongin apa sih?”.
Ayu: “ngomongin hantu”.
Irma: “owh”.

Mereka terus menelusuri hutan dan mencari batu kristal hingga akhirnya mereka menemukan pohon persik tepat di tepi sungai yang dalamnya hingga 500 meter dan ternyata batu itu berada di dalam sebuah peti irma mencoba mengambil peti itu namun sayang ia terpereset dan masuk ke sungai.
Ayu: “irma, bertahan ma gue pasti bakal nyelametin elo”.
Irma: “nggak usah mungkin takdir gue harus mati disini loe cepat ambil kristal itu dan cepat hancurkan dan setelah menghancurkanya loe cepat pergi dari sini karena tepat setelah loe menghancurkan kristal itu maka orang yang berada di tempat ini akan mati juga”.
Ayu: “loh loe kok tahu”.
Irma: “gue pernah baca tentang artikel hutan aokigahara sebelumnya gue anggap mitos ternyata itu nyata, gue udah nggak kuat selamat tinggal teman-teman”.
Ayu: “irmaaa”.
Irma pun masuk ke sungai ayu pun sangat sedih dan kecewa karena tak bisa menyelamatkan irma.

Ayu: “irma ram ia sudah nggak ada”.
Rama: “udah-udah loe yang tabah ya irma udah tenang di atas sana loe jangan nangis lagi dong semangat”.
Ayu: “iya gue semangat kok cepat ambil tuh peti”.
Rama: “iya-iya”.

Akhirnya mereka berhasil mendapatkan kotak peti itu dan benar batu kristal merah itu memang ada di dalam peti itu mereka pun membawa kristal itu menuju ke perbatasan hutan dan perkampungan penduduk (singkat cerita) mereka sudah hampir sampai ke perbatasan dengan mengendarai mobil akan tetapi hantu itu malah menabrakan mobil ayu dan rama di pohon mereka pun langsung keluar dari dalam mobil, dan lari dengan secepat mungkin akan tetapi rama mengecoh perhatian hantu-hantu itu.

Ayu: “rama loe mau ngapain”.
Rama: “gue mau mengecoh perhatian musuh loe lari aja lalu cepat hancurkan kristal itu”.
Ayu: “tapi ram, loe bagaimana?”.
Rama: “nggak usah peduliin gue loe cepat lari aja”.
Ayu: “baiklah”.

Sampai di perbatasan ayu menghancurkan batu kristal itu, setelah hancur hantu-hantu yang ada disitu menjerit-jerit sangat kencang hingga tidak terdengar suara lagi, ayu pun segera menghampiri rama dan untunglah rama tak tewas karena ia sudah keluar dari hutan aokigahara dan ia hanya terluka parah dan sekarang hutan itu sudah tidak angker lagi dan tidak akan ada orang-orang yang mendengar suara hantu di tempat itu.

Ayu dan rama telah mendapat penghargaan dari pemerintah jepang karena telah membasmi hantu-hantu di hutan aokigahara dan kembali mensejahterakan penduduk jepang akan tetapi tak hanya ayu dan rama ke-6 temanya juga mendapat penghargaan.

Polisi, relawan dan pekerja hutan mencari mayat-mayat di hutan aokigahara dan ayu beserta rama melihat jasad-jasad teman mereka yang dibawa oleh pekerja hutan (singkat cerita) jasad-jasad kelima temanya diterbangkan ke jakarta untuk dimakamkan tetapi jasad nisa tidak ditemukan karena disebabkan jasadnya tenggelam di dalam lumpur yang sangat dalam. Ayu dan rama pun juga menghadiri resepsi pemakaman teman-temannya.

Cerpen Karangan: Dian Ayu Widya Ningrum

It's Me

puisi1001puisi

adalah blog yg berisi kumpulan puisi puisi dari para .....Read Full

Post terbaru

Kisah abu nawas

sore itu di sebuah warung Abu nawas sedang menikmati secangkir teh hangat,tiba2 Dia melihat temannya datang dengan muka yg masam,seolah se...

Entri Populer

Foto Saya
My Photo
Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus
Subscribe me on RSS